Perludem: Kekhawatiran Masyarakat Kali Ini Berbeda

Juli 12, 2014

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Khoirunnisa Agustyati, menilai, pelaksanaan Pemilu Presiden 2014 berbeda dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif 2014 maupun pelaksanaan pemilu-pemilu sebelumnya. Perbedaan tersebut terlihat dari potensi kericuhan yang mungkin terjadi sebagai dampak pelaksanaan pemilu itu sendiri.

Pada umumnya, Khoirunnisa mengatakan, kekhawatiran masyarakat dan penyelenggara pemilu timbul apabila kerusuhan terjadi akibat proses distribusi logistik pemilu terganggu, seperti surat suara yang tak datang tepat waktu, jumlahnya yang kurang maupun jumlahnya yang melebihi batas maksimal yang ditentukan. Sekarang, kekhawatiran itu justru timbul akibat keberadaan hitung cepat atau quick count yang dilaksanakan lembaga survei.

“Kemarin kekhawatiran itu terjadi karena kericuhan akibat surat suara yang tertukar, distribusi logistik yang bermasalah, dan sebagainya. Sekarang kekhawtiran itu justru akibat hasil quick count,” kata Khoirunisa saat diskusi bertajuk Buka Informasi Pelaksanaan Hitung Cepat di Tranparency International Indonesia (TII), Jumat (11/7/2014).

Khoirunnisa menuturkan, perbedaan hasil hitung cepat dianggap ampuh membuat ekskalasi politik meningkat. Terlebih lagi, kata dia, masing-masing tim sukses pasangan calon presiden dan calon wakil presiden mengklaim jika hasil hitung cepat lembaga yang memenangkan pasangan yang mereka dukung paling benar.

Kondisi seperti itu, lanjut Khoirunnisa, diperparah dengan adanya pernyataan masing-masing tim sukses yang bernada menyerang tim sukses lain sehingga membuat tim sukses lain yang diserang menjadi marah.

“Kita tidak menduga bahwa hitung cepat justru yang membuat kekhawatiran pada pilpres kali ini,” ujarnya.

Sebelumnya, berdasarkan hasil hitung cepat 11 lembaga survei, tujuh di antaranya menyatakan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Tujuh lembaga survei itu adalah Litbang Kompas, Lingkaran Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, Populi Center, CSIS, Radio Republik Indonesia, dan Saiful Mujani Research Center.

Sementara itu, empat lembaga survei yang mendapatkan kemenangan untuk Prabowo-Hatta adalah Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Indonesia, dan Jaringan Suara Indonesia.

(Kiri-kanan) Peneliti Indonesia Parliamentary Centre (IPC) Hanafi, peneliti PATTIRO Ari Setiawan, peneliti Perludem Khoirunnisa Agustyati dan moderator Wawan Sujatmiko saat diskusi bertajuk 'Buka Informasi Pelaksanaan Hitung Cepat...!!!' di Tranparency International Indonesia (TII), Jumat (11/7/2014). Peneliti yang tergabung ke dalam Freedom Of Information Network Indonesia (FOINI) itu mendesak agar lembaga survei dapat membuka data dan sumber pendanaan mereka saat menggelar real count Pilpres 2014 kemarin. (Kiri-kanan) Peneliti Indonesia Parliamentary Centre (IPC) Hanafi, peneliti PATTIRO Ari Setiawan, peneliti Perludem Khoirunnisa Agustyati dan moderator Wawan Sujatmiko saat diskusi bertajuk ‘Buka Informasi Pelaksanaan Hitung Cepat…!!!’ di Tranparency International Indonesia (TII), Jumat (11/7/2014). Peneliti yang tergabung ke dalam Freedom Of Information Network Indonesia (FOINI) itu mendesak agar lembaga survei dapat membuka data dan sumber pendanaan mereka saat menggelar real count Pilpres 2014 kemarin.

 

Sumber: http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/11/15284131/perludem.sebut.kekhawatiran.masyarakat.di.pilpres.kali.ini.berbeda?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppPrint

Comments on this entry are closed.