Bersama USAID – APIK, PATTIRO Kuatkan Blitar Hadapi Perubahan Iklim

Juli 11, 2017

PERUBAHAN-IKLIMDalam perubahan iklim yang kian ekstrim, kekeringan bukan satu-satunya bencana yang ditawarkan, namun juga ketidaktentuan iklim, kenaikan muka air laut atau bahkan banjir. Dan Indonesia tidak lepas dari semua itu.

Direktur Eksekutif Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO), Maya Rostanty mengatakan, bahwasanya salah satu daerah yang begitu rentan ialah Jawa Timur.

“Dalam lima tahun terakhir, itensitas bencana di sana kian meningkat. Dan yang paling sering itu banjir dan tanah longsor,” kata Maya.

Selain bencana alam yang mesti dikhawatirkan dari perubahan iklim, Maya juga mewanti-wanti efek lanjutan dari bencana iklim. Seperti ancaman terhadap pertanian dan kesehatan.

“Pertama, produktivitas pertanian akan menurun. Kedua, resiko demam berdarah, malaria atau diare meningkat,” jelas Maya.

Maya menambahkan, dari 32 daerah rawan bencana, terdapat 10 titik yang sangat rawan, dan sebagian besar terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, “Tingkat kuantitas air per tahun di Brantas di atas rata-rata, 11,7 miliar m3, sedangkan potensi eksploitasinya 2,6 – 3 miliar m3,” terang dia.

Dalam mencegah bencana alam semakin buruk, PATTIRO dan USAID – APIK bekerjasama dalam membangun kesadaran dan kesiapan masyarakatnya dalam menghadapi bencana perubahan iklim.

Daerah kerjanya sendiri, Maya menerangkan bahwa PATTIRO akan berfokus di Kabupaten Blitar selama 12 bulan, “Kita akan lakukan pemetaan potensi dan bencana resiko, peningkatan pemahaman dan peningkatan kapasitas masyarakat,” ucapnya.

Meski begitu, Maya mengamini bahwa, niat baik tidak bisa terwujud jika peran masyarakat dikesampingkan, “Kolaboratif sangat penting dari setiap elemen masyarakat, dan itu mesti dipraktikan sepanjang tahun agar adaptasi perubahan iklim berjalan baik,” tutur Maya.

Sekedar informasi, sebelumnya PATTIRO dan USAID – APIK juga telah menguatkan masyarakat di enam desa, di Kabupaten Malang yang selesai di awal tahun 2017 ini.

“Kita berharap, praktik baik adaptasi dapat dicontoh oleh daerah lainnya, sehingga bencana iklim di manapun bisa diminimalisir,” tandas Maya.

Photo: dagelan.co

(AR)

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppPrint

Comments on this entry are closed.