Inovasi Pendataan Disabilitas (Kajian dan Praktik Baik Mitra Program Peduli Disabilitas Fase 1 di Enam Provinsi)

Juni 5, 2018

PATTIRO2018 - Inovasi Pendataan Disabilitas_CoverPembangunan di Indonesia yang selama ini bertumpu pada paradigma pertumbuhan memang berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi membawa berbagai akibat negatif, antara lain eksklusivitas, kerusakan lingkungan, penyusutan sumber daya alam, dan kesenjangan sosial. Pembangunan lebih banyak didedikasikan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, dengan Produk Domestik Bruto (GDP) sebagai ukuran utama, sementara kesejahteraan dan keadilan sosial belum menjadi prioritas utama. Eksklusif dalam arti pertumbuhan ekonomi di tangan sebagian kecil pihak, yaitu pengusaha besar/konglomerat dan birokrat. Menurut Badan Pusat Statistik (2018) tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia pada September 2017 yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,391. Angka ini menurun sebesar 0,002 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2017 yaitu 0,393.

Paradigma pertumbuhan juga ternyata menciptakan eksklusi sosial, relatif sulit bagi kelompok rentan untuk terlibat di dalam proses pembangunan. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan perubahan paradigma dari pembangunan yang berorientasi pada ekonomi dengan output mengejar pertumbuhan ekonomi (pembangunan eksklusif), kepada paradigma pembangunan inklusif yang bertujuan untuk menyejahterakan semua lapisan masyarakat. Pembangunan inklusif ini merupakan konsep pembangunan yang mengupayakan pemberian hak bagi kelompok yang terpinggirkan (disabilitas, miskin, dan minoritas) di dalam proses pembangunan.

Pembangunan inklusif sendiri dapat diartikan sebagai proses untuk memastikan bahwa semua kelompok masyarakat yang terpinggirkan bisa terlibat sepenuhnya di dalam proses pembangunan (International Disability and Development Consortium). Pengertian lain adalah pembangunan yang merujuk pada pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan kesempatan ekonomi yang sama bagi semua orang (Rauniyar & Kanbur, 2009), atau pembangunan untuk semua orang, tidak peduli latar belakang dan perbedaan-perbedaannya (Prasetyantoko dkk, 2009). Bila dikaitkan dengan kepentingan penyandang disabilitas maka pembangunan inklusif dapat didefinisikan sebagai pembangunan yang melibatkan peran serta seluruh lapisan masyarakat, segala golongan: kaya-miskin, laki-laki – perempuan, masyarakat rentan, indigenous people, dan penyandang disabilitas.

Untuk membaca selengkapnya silakan unduh buku ini :

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppPrint

Leave a Comment

What is 13 + 14 ?
Please leave these two fields as-is:
IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)