Perubahan Iklim Pengaruhi Produksi Pertanian di Kabupaten Manggarai Timur

Pada 20 tahun terakhir, masyarakat di Kabupaten Manggarai Timur telah merasakan tanda-tanda perubahan iklim, seperti musim hujan lebih pendek, curah hujan sangat tinggi, musim kemarau semakin panjang dengan durasi 7-8 bulan, dan suhu udara pada bulan tertentu sangat panas. Kekeringan semakin sering terjadi. Hal ini berdampak kepada penurunan hasil padi di sawah beririgasi teknis, sawah tadah hujan, dan kopi sebagai tanaman perdagangan utama petani. Kondisi  ini terungkap pada studi lapangan dan wawancara mendalam dengan kelompok tani, tokoh masyarakat, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di 2  desa dan 2  kelurahan yang dilakukan oleh Yayasan Ayo Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, mitra program Voice for Inclussivenes Climate Resilence Action (VICRA), Yayasan Ayo Indonesia, dan Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Manggarai Timur menyelenggarakan kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion—FGD) terkait diseminasi hasil studi indentifikasi dampak perubahan iklim di 2 desa dan 2 kelurahan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (25/8) di Aula Pertemuan kantor Bappelitbangda Kabupaten Manggarai Timur dihadiri oleh 28 orang yang terdiri dari Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Bappelitbangda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, media, staf dari Yayasan Ayo Indonesia, dan utusan kelompok tani dari lokasi studi.

Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur, dan Kewilayahan Bappelitbangda Kabupaten Manggarai Timur, Ferdi Bembok mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan rekomendasi terkait upaya penanggulangan dampak perubahan iklim, berdasarkan hasil studi identifkasi dampak perubahan iklim di empat lokasi di Kabupaten Manggarai Timur yang telah dilaksanakan oleh Yayasan Ayo Indonesia pada Mei dan Juli 2022 melalui program VICRA.

Perubahan iklim akan sangat mengganggu ketersediaan dan rantai pasok pangan beras di Kabupaten Manggarai Timur. Bagi masyarakat setempat beras adalah sumber pangan dan juga sumber pendapatan untuk membiayai kebutuhan pendidikan, urusan adat, dan sosial kemasyarakatan.

“Jika terjadi gagal panen akibat perubahan iklim maka hal ini berdampak kepada kondisi ekonomi petani bahkan mereka bisa menjadi miskin dengan level ekstrim,” ungkap Ferdi.

Sekretaris Bappelibangda Kabupaten Manggarai Timur, Matias Mingga, mengatakan masyarakat atau petani di Kabupaten Manggarai Timur tidak siap menghadapi perubahan iklim. Perubahan iklim ini mengakibatkan berubahnya pola tanam dan curah hujan yang tidak menentu. Menurut Matias, petani masih mengikuti pola tanam lama. Hal ini menyebabkan sering terjadi gagal panen dan penurunan hasil padi. Jika hal ini tidak diatasi dengan langkah-langkah strategis, stok pangan yang diproduksi dari petani sawah di Kabupaten Manggarai Timur akan terganggu dan kita akan bergantung beras dari luar.

Masyarakat yang terlibat aktif dalam studi tentang dampak perubahan iklim di Kelurahan Rana Loba dan Watu Nggene mengaku hasil panen padi mereka menurun sekitar 30-40 persen. Penyebabnya adalah serangan hama ulat grayak putih saat curah hujan sangat tinggi. Perubahan iklim berpengaruh pada peningkatan jumlah populasi dan serangan organisme pengganggu (OPT) pada tanaman. Petani yang menanam padi ladang atau sawah tadah hujan di Kelurahan Watu Ngene, Desa Golo Ndari, dan Desa Golo Ngawan terpaksa meninggalkan lahannya karena ketidakpastian turunnya musim hujan, dan sering mengalami gagal panen. Produksi padi di Desa Golo Ndari dan Desa Golo juga mengalami penurunan sekitar 40-50 persen. Musim tanam padi di lahan sawah tadah hujan biasanya jatuh pada bulan November tetapi pada kondisi 15 tahun terakhir musim tanam padi mundur ke bulan Desember, Januari dan Februari.

Produksi padi ladang pun tidak luput dari pengaruh dampak perubahan iklim akibat masa kekeringan yang semakin lama. Hal ini diperparah dengan  pergeseran  pola curah hujan.

Koordinator program VICRA untuk Yayasan Ayo Indonesia, Rikhardus Roden, menjelaskan bahwa Kabupaten Manggarai Timur, adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang ditetapkan sebagai lokasi superprioritas untuk aksi pembangunan ketahanan iklim oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas. Ia juga menambahkan studi lapangan yang dilakukan oleh Yayasan Ayo Indonesia menemukan  komoditas utama petani Manggarai Timur, seperti kopi (Arabika dan Robusta) dan cengkeh, mengalami penurunan produksi. Tanaman cengkeh pada dua tahun terakhir tidak berbuah sedangkan kedua jenis kopi di Desa Golo Ndari dan Golo Ngawan produksinya sedikit karena hujan tidak kunjung terjadi pada Agustus dan September.

Berita

Berita Lainnya

Newsletter

Scroll to Top