Aktivis Difabel di Labuapi Mulai Menggeliat

Oktober 7, 2015

PATTIRO-dan-Teman-Teman-Difabel-Di-Kecamatan-Labuapi-300x227Dukungan yang PATTIRO berikan kepada sahabat difabel di Kabupaten Lombok Barat hingga Oktober, 2015 telah berjalan selama satu semester. Dalam jangka waktu ini, satu perubahan penting yang dapat disorot adalah terbentuknya komunitas aktivis difabel. Salah satunya adalah Pusat Pengembangan Potensi Disabilitas (PPPD) Kecamatan Labuapi yang mulai bergiat sejak 27 Juli 2015.

Kerja sama dengan Puskesmas Labuapi

Pembentukan komunitas yang digerakkan oleh Budi Santoso, Khalid, dan Djauhairiah ini rupanya mendapat respon positif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk manajemen Puskesmas Kecamatan Labuapi. Ini ditandai dengan terjalinnya komunikasi yang intensif antara PPPD dan managemen puskesmas.

Intensitas komunikasi keduanya meningkat setelah Budi, Khalid, dan Djauhairiah, bersama sahabat difabel lainnya hadir dalam pertemuan pertama Program Peduli Difabel yang diselenggarakan oleh PATTIRO di Kabupaten Lombok Barat. Pertemuan awal ini lah yang kemudian membuka jalan bagi ketiganya untuk melakukan diskusi secara terbuka dengan pihak Puskesmas Kecamatan Labuapi. Tak berhenti sampai di situ, ketiganya terus melakukan kunjungan dan menjalin silaturahmi dengan Kepala Puskesmas Kecamatan Labuapi, Sahroji.

Usaha ketiga pegiat difabel itu mendekati petinggi puskesmas tak sia-sia. Sahroji pun kemudian mengajukan tawaran kerja sama dalam melakukan pendataan terhadap difabel di Kecamatan Labuapi. Dalam kolaborasi ini, PPPD dipercaya untuk mendata para difabel yang tercakup layanan Puskesmas Labuapi. Dari data yang mereka peroleh, nantinya, pihak Puskesmas Labuapi akan membantu memperjuangkan hak para difabel yang telah terdata untuk mendapatkan kartu BPJS Kesehatan.

Sejauh ini, proses kerja sama antar keduanya berjalan lancar. Data yang diperoleh oleh teman-teman PPPD, oleh Puskesmas Labuapi pun telah diteruskan ke pemangku kepentingan dan pengambil keputusan lainnya yang terkait di pemerintahan, seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat.

Bahkan, dalam kegiatan evaluasi per enam bulan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, Puskesmas Labuapi mengangkat isu difabel ke dalam pembahasan forum. Pihak Puskesmas Labuapi juga mengusulkan agar Dinas Kesehatan membuat sebuah program khusus dimana puskesmas secara berkala melakukan kunjungan langsung ke kelompok-kelompok difabel di Lombok Barat. Usulan ini kembali diutarakan Sahroji kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat saat kegiatan Diskusi Kelompok Terfokus Survei Baseline pada 14 September 2015 lalu.

Usaha Puskesmas Labuapi mendorong agar Pemerintah Lombok Barat segera mengambil tindakan terkait permasalahan yang dihadapi para sahabat difabel terus dilakukan. Pada 2 Oktober 2015, Puskesmas Labuapi menyelenggarakan audiensi dengan Kepala Dinas Sosial  Kabupaten Lombok Barat sebagai langkah tindak lanjut pertemuan dengan puskesmas se-Kabupaten Lombok Barat sebelumnya, sekaligus menyerahkan data difabel yang telah didapatkan oleh PPPD.

Dampak Positif PPPD

Pendirian PPPD telah membawa dampak positif kepada mereka yang aktif berkegiatan di dalamnya. Salah satunya adalah mulai tumbuhnya rasa percaya diri di dalam diri para anggota PPPD.

Sebelum PPPD terbentuk, Budi Santoso sering mengalami diskriminasi. Karena kondisinya, tak ada perusahaan yang bersedia menerimanya bekerja. Namun, setelah bergabung dengan PPPD, kepercayaan diri Budi kian tumbuh. Giat mengasah diri, Budi pun sekarang telah mendapat sebuah pekerjaan sebagai penjaga toko jasa fotokopi.

Djauhariah juga begitu. Batasan yang diterapkan oleh keluarganya membuat Djauharian kesulitan berinteraksi dengan sekitarnya. Kini ia sudah berani berinteraksi dengan masyarakat di lingkungannya dan menjadi pembicara di berbagai forum diskusi. Bahkan, Djauhariah kini telah menjadi bagian dari pengurus harian Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Nusa Tenggara Barat.

Perubahan yang terjadi dalam hidup Budi dan Djauhariah tak bisa dianggap sebagai perubahan kecil karena perubahan yang mereka alami telah mampu memengaruhi komunitas yang ada di sekitar mereka.

Meski baru terbentuk, PPPD telah membawa dampak positif bagi para sahabat difabel di Kabupaten Lombok Barat. Kini, mereka telah mampu melakukan proses advokasi di tingkat kecamatan. Sebuah tim advokasi yang mereka bentuk saat ini sedang fokus berusaha mendirikan puskesmas yang ramah terhadap difabel.

Kerja sama PPPD dengan Puskesmas Labuapi sedikit demi sedikit juga telah mengubah stigma yang ada masyarakat. Masyarakat sudah mulai menerima keberadaaan para sahabat difabel di lingkungan masyarakat.

Tak hanya itu, saat ini, PPPD tengah berupaya melakukan advokasi demi meningkatkan kualitas pelayanan dasar yang diberikan oleh puskesmas kepada para sahabat difabel di Kecamatan Labuapi.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppPrint

Comments on this entry are closed.