Peningkatan Kapasitas Mitra CSO VICRA Melalui TOT Berketahanan Iklim dan Analisis GESI

Pebruari 17, 2022

2022.01.28_ToT_Berketahanan-Iklim-dan-Analisis-GESI-1

Jakarta, Februari 2022.

Salah satu outcome yang akan dicapai dalam program Voice for Inclusiveness Climate Resillience Actions (VICRA) yaitu isu dan kebijakan perubahan iklim dapat didiskusikan dan dipahami oleh berbagai stakeholders di tingkat provinsi, kabupaten, dan desa. Dalam rangka mencapai outcome tersebut, maka diperlukan peningkatan pengetahuan dan kapasitas tim pelaksana program VICRA, sehingga mereka bisa memberikan pemahaman kepada kelompok dampingan dan para pemangku kepentingan terkait pentingnya membangun aksi berketahanan iklim yang inklusif. Menindaklanjuti hal ini, Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) bersama dengan konsorsium CSO yang terdiri dari Konsepsi, Transform, LP2M, PKBI Sumbar, Mitra Bentala, Bengkel APPeK, Yayasan Ayo Indonesia, dan YPPS, menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Berketahanan Iklim dan Analisis Gender Equality and Social Inclusion (GESI). Kegiatan ToT ini diperuntukkan bagi pelaksana program di empat provinsi yang menjadi wilayah program, yaitu Sumatera Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

ToT Berketahanan Iklim dan Analisis GESI merupakan bagian dari rangkaian Program VICRA yang didukung oleh Pemerintah Belanda melalui Kementerian Luar Negeri Belanda. Kegiatan ini diselenggarakan di Bogor pada 28-30 Januari 2022, dan difasilitasi oleh Ramadhaniati (GESI Specialist Program VICRA), Moh. Taqiuddin (Climate Resilience Specialist Program VICRA), dan Agus Salim (Program Manager), dan Mei Tatengkeng. ToT dibuka oleh Direktur Eksekutif PATTIRO, Bejo Untung. Dalam sambutannya, Bejo menegaskan untuk tidak menjadikan program VICRA dan isu perubahan iklim sebagai sesuatu yang terpisah dari program yang sudah disosialisasikan kepada masyarakat. Bejo menjelaskan bahwa perubahan iklim dapat mengancam ketahanan pangan, dan dalam jangka panjang dapat memperburuk situasi stunting di Indonesia.

“Salah satu dampak perubahan iklim adalah adanya potensi penurunan produksi pangan. Apabila pangan yang berkualitas tidak tercukupi, maka akan mempertinggi risiko stunting pada anak. Dari contoh tersebut, dapat dikatakan bahwa program VICRA dan isu perubahan iklim bisa melengkapi program yang sudah berjalan di masyarakat,” jelas Bejo.

Dalam kesempatan ini, mitra CSO menyampaikan sejumlah tantangan yang ditemui di lapangan. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh CSO yaitu perubahan iklim masih dianggap sebagai konsep abstrak atau “bahasa langit” oleh masyarakat. Ini menjadi tugas bersama untuk menyederhanakan istilah dan konsep-konsep yang digunakan dalam fenomena perubahan iklim, agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat, terutama kelompok rentan. Harapannya melalui ToT Berketahanan Iklim dan Analisis GESI, para peserta dapat menemukan kata kunci (keyword) yang bisa terus dibawa ketika mendiskusikan perubahan iklim di tingkat tapak.

2022.01.28_ToT_Berketahanan-Iklim-dan-Analisis-GESI-2

ToT Berketahanan Iklim dan Analisis GESI juga dihadiri oleh Deputi Direktur SEAMEO BIOTROP, Perdinan sebagai narasumber. Dalam paparannya, Perdinan menjelaskan tujuan dari aksi adaptasi perubahan iklim di Indonesia adalah untuk mengurangi risiko, meningkatkan kapasitas adaptif, memperkuat ketahanan, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim di semua sektor pembangunan pada tahun 2030. Lebih jauh, Perdinan menjelaskan tentang alur penyusunan program aksi adaptasi perubahan iklim yang terdiri dari analisis perubahan iklim beserta dampaknya, identifikasi kerentanan, identifikasi risiko di masa depan, dan menentukan pilihan adaptasi. Perdinan memberikan beberapa rekomendasi untuk menyusun rencana aksi adaptasi perubahan iklim dalam program VICRA, diantaranya jenis aksi yang dipilih bisa dalam bentuk soft intervention, yaitu melalui peningkatan kapasitas, tata kelola, dan pendanaan. Kemudian, pentingnya membuat skala prioritas aksi dan memasukkan contoh nyata aksi adaptasi perubahan iklim yang ada di Indonesia.

“Teman-teman tidak perlu membuat mekanisme yang rumit ketika merancang program aksi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian, yang terpenting aksi tersebut menyasar tiga hal yaitu waktu, produksi, dan konsumsi,” pungkas Perdinan.

Dalam kegiatan ini, mitra CSO juga dikenalkan dengan konsep GESI dan Pengarusutamaan Gender (PUG) yang disampaikan oleh Senior Advisor PATTIRO, Maya Rostanty.  Maya menjelaskan urgensi dari aksi adaptasi perubahan iklim yang berbasis GESI. Dimana, internalisasi GESI dalam adaptasi perubahan iklim sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) -pembangunan dari, oleh dan, untuk masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan (No one left behind)- dan komitmen nasional terkait Pengarusutamaan Gender (PUG). Harapannya rencana adaptasi perubahan iklim yang berbasis GESI dapat memastikan terpenuhinya akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang setara antara laki-laki dan perempuan, termasuk kelompok rentan lainnya.

Melalui ToT Berketahanan Iklim dan Analisis GESI ini juga peserta diperkenalkan alat-alat analisis gender yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya kesenjangan gender dalam adaptasi perubahan iklim, baik dari aspek kebijakan, maupun implementasinya di lapangan. Dari analisis gender yang dilakukan, diharapkan peserta dapat mengidentifikasi permasalahan kesenjangan gender dan mereformulasi kebijakan/program/kegiatan pembangunan yang terkait dengan perubahan iklim di daerah agar lebih responsif gender dan inklusif.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppPrint

Comments on this entry are closed.