Memperingati Hari Lingkungan Hidup, PATTIRO Gelar Gerakan Bersih Sampah Laut di Pantai Anyer

PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) menggelar kegiatan Gerakan Bersih Sampah Laut di Pantai Pasir Putih Florida Indah, Anyer, Banten (2/06/2026). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2026.

Aksi bersih sampah laut ini menjadi bagian dari komitmen PATTIRO dalam mendorong kepedulian publik terhadap isu lingkungan, khususnya persoalan sampah pesisir dan laut yang masih menjadi tantangan serius dalam tata kelola lingkungan. Melalui kegiatan ini, PATTIRO ingin memperkuat pesan bahwa perlindungan lingkungan tidak hanya membutuhkan kebijakan yang baik, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai aktor lokal.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama PATTIRO Banten, Duta Permukiman Sehat Banten 2026, Duta PRIMA 2025, serta Duta Perempuan Iklim Banten 2025. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa isu lingkungan merupakan isu lintas sektor yang berkaitan erat dengan perubahan iklim, kesehatan permukiman, kualitas hidup masyarakat, serta keberlanjutan wilayah pesisir.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta melakukan pembersihan sampah di sekitar kawasan pesisir Pantai Pasir Putih Florida Indah. Sampah-sampah yang ditemukan di area pantai dikumpulkan sebagai bagian dari edukasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak selesai hanya melalui kegiatan pembersihan, tetapi perlu dilanjutkan dengan perubahan perilaku, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan sampah, serta sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Bagi PATTIRO, Gerakan Bersih Sampah Laut bukan sekadar kegiatan seremonial dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang edukasi, refleksi, dan aksi kolektif untuk menumbuhkan kesadaran bahwa persoalan lingkungan harus ditangani secara bersama-sama. Sampah laut tidak hanya mengganggu keindahan kawasan wisata, tetapi juga berdampak pada ekosistem pesisir, kesehatan lingkungan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta kehidupan komunitas yang bergantung pada sumber daya laut.

Pantai sebagai ruang hidup dan ruang ekonomi masyarakat memiliki fungsi yang sangat penting. Di satu sisi, kawasan pesisir menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat lokal, pelaku wisata, nelayan, pedagang, dan komunitas sekitar. Namun di sisi lain, kawasan pesisir juga rentan terhadap pencemaran, terutama akibat sampah plastik, limbah domestik, dan rendahnya kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, PATTIRO mengajak masyarakat untuk melihat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, serta ikut terlibat dalam gerakan kolektif menjaga kawasan pesisir. Langkah-langkah sederhana tersebut dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten dan menjadi kebiasaan bersama.

Kehadiran Duta Permukiman Sehat Banten 2026 turut menegaskan keterkaitan antara lingkungan bersih dan kualitas permukiman yang sehat. Lingkungan pesisir yang terjaga bukan hanya penting untuk melindungi ekosistem laut, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, kenyamanan ruang publik, serta kualitas hidup warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Raka Ramadhani selaku Duta Permukiman Sehat Banten 2025 mengajak masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama di kawasan wisata. Menurutnya, kesadaran untuk tidak meninggalkan sampah menjadi langkah sederhana yang perlu dibangun bersama.

“Satu pesan untuk masyarakat lokal, dari manapun itu, yaitu jangan pernah meninggalkan sampah, jangan pernah membuat sampah kalian menumpuk, dan jangan pernah mengotori tempat-tempat wisata,” ujar Raka Ramadhani.

Senada dengan hal tersebut, Okta selaku Duta Permukiman Sehat Banten 2026 juga menekankan bahwa lingkungan yang bersih memiliki hubungan erat dengan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, menjaga kesehatan diri tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan hidup.

“Mari kita menjaga diri kita, mari kita menjaga lingkungan hidup kita, karena hidup yang sehat berasal dari lingkungan yang sehat. Jangan sampai sampah-sampah meracuni bumi yang kita tinggali,” ujar Okta.

Kehadiran Duta PRIMA 2025 turut memperkuat pesan bahwa isu lingkungan memiliki keterkaitan dengan berbagai persoalan sosial yang lebih luas. Kegiatan bersih sampah laut ini tidak hanya menjadi aksi untuk menjaga kebersihan pantai, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga bumi, memperkuat kepedulian sosial, serta mendorong peran aktif generasi muda dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Neng Vivi selaku Duta PRIMA 2025 menyampaikan bahwa persoalan sampah tidak dapat dipandang sebagai masalah kecil. Menurutnya, sampah juga memiliki kontribusi terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, perlu terlibat dalam aksi nyata menjaga lingkungan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap isu sosial.

“Sampah menjadi salah satu penyebab perubahan iklim. Mari kita menjaga bumi dan lawan kekerasan berbasis gender,” ujar Neng Vivi.

Keterlibatan Duta Perempuan Iklim Banten 2026 juga memperkuat pesan bahwa isu lingkungan dan perubahan iklim perlu dilihat secara lebih inklusif. Dalam kegiatan tersebut, gerakan bersih sampah laut menjadi pengingat bahwa persoalan iklim tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah, baik di lingkungan rumah tangga maupun ruang publik.

Perwakilan Duta Perempuan Iklim Banten 2026, Karina dan Nana, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah perlu menjadi tanggung jawab bersama. Menurut mereka, perempuan selama ini kerap berada di garis depan dalam urusan domestik, termasuk dalam menghadapi sampah rumah tangga yang dihasilkan dari aktivitas harian seperti memasak, mencuci, dan mengurus kebutuhan keluarga.

“Sebagian besar sampah di rumah tangga sering kali berkaitan dengan aktivitas domestik yang banyak dijalankan oleh perempuan. Perempuan sebagai garda terdepan dalam urusan rumah tangga kerap berhadapan langsung dengan sampah, mulai dari sisa aktivitas memasak, mencuci, hingga sampah yang dihasilkan oleh anggota keluarga lainnya. Namun, pengelolaan dan pemilahan sampah masih sering dibebankan kepada perempuan,” ujar Karina.

Karina menambahkan, beban tersebut dapat membuat proses pemilahan sampah di tingkat rumah tangga tidak berjalan optimal. Akibatnya, berbagai jenis sampah seperti plastik, popok bekas, kardus, hingga limbah elektronik dapat bercampur dan berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa pengelolaan yang memadai.

“Oleh karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, untuk berperan aktif dalam mengelola dan memilah sampah mulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah. Kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten,” ujar Karina dan Nana.

Keduanya juga menekankan bahwa perempuan dan anak muda memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan perilaku di masyarakat. Perempuan, terutama dalam lingkup keluarga dan komunitas, dapat menjadi penggerak edukasi lingkungan melalui pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah rumah tangga, serta kampanye hidup bersih dan sehat. Sementara itu, anak muda dapat memperluas pesan lingkungan melalui kreativitas, gerakan komunitas, dan kampanye digital yang lebih dekat dengan masyarakat.

Berbagai pandangan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memperkuat pesan bahwa Gerakan Bersih Sampah Laut tidak hanya berorientasi pada aksi pembersihan, tetapi juga pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah dan lingkungan. Sampah yang ditemukan di pesisir menunjukkan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kesadaran kolektif, mulai dari perilaku individu, kebiasaan rumah tangga, hingga tata kelola lingkungan di tingkat komunitas.

PATTIRO memandang bahwa persoalan sampah laut tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga dengan tata kelola lingkungan yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pengelolaan sampah perlu melibatkan masyarakat, komunitas lokal, sektor wisata, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil agar upaya menjaga lingkungan pesisir dapat berjalan secara berkelanjutan.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. Dengan semangat gotong royong, PATTIRO bersama PATTIRO Banten, Duta Permukiman Sehat Banten 2026, Duta PRIMA 2025, dan Duta Perempuan Iklim Banten 2026 berharap gerakan serupa dapat terus diperluas sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Scroll to Top