Memperkuat Usaha Perhutanan Sosial di Tengah Tantangan Kemarau dan Keterbatasan Permodalan

Lebak, 21 Oktober 2026 – Pengembangan usaha perhutanan sosial berperan penting dalam memperkuat ekonomi masyarakat dan mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Namun, keterbatasan infrastruktur, akses permodalan, dan dampak perubahan iklim masih menjadi tantangan bagi produktivitas usaha masyarakat. Untuk memahami kondisi tersebut, PATTIRO bersama Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) melakukan kunjungan lapangan ke KTH (Kelompok Tani Hutan) Sumber Rejeki di Desa Cileles, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

KTH Sumber Rejeki merupakan kelembagaan masyarakat yang diketuai oleh Bapak Angling dan berdiri pada 2022, dengan total 237 anggota. Di bawah kelembagaan tersebut, terdapat tiga Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), yaitu dengan usaha Pisang Cavendish, Bambu, dan Rimpang. Ketiga kelompok usaha ini dibentuk untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi hasil hutan dan pemanfaatan lahan perhutanan sosial, sekaligus membuka peluang usaha yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota. Pengembangan usaha tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah dan penguatan kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Budidaya pisang Cavendish menjadi salah satu usaha KTH Sumber Rejeki yang memiliki peluang pasar menjanjikan. Usaha yang telah dikembangkan selama sekitar lima tahun di lahan seluas 26 hektare ini telah menjalin kemitraan dengan penyedia katering di Cikarang yang membutuhkan pasokan hingga 60 ton per hari. Namun, kemarau panjang yang berlangsung hingga tujuh bulan menyebabkan keterbatasan air, menghambat pertumbuhan tanaman, dan menurunkan hasil panen secara drastis. Kondisi ini membuat petani kesulitan memenuhi permintaan pasar sehingga diperlukan pemulihan produktivitas dan peremajaan tanaman setelah ketersediaan air kembali membaik.

“Permintaan pasar sebenarnya sangat besar, bahkan mitra di Cikarang membutuhkan pasokan pisang hingga 60 ton per hari. Namun, kami belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut karena produksi kebun menurun akibat kemarau panjang. Ketersediaan air menjadi faktor penting agar tanaman dapat dirawat dengan baik dan usaha kembali menghasilkan panen secara optimal,” ungkap Angling selaku ketua KTH Sumber Rejeki

Keterbatasan infrastruktur pengairan menjadi kendala utama dalam pengembangan usaha pisang Cavendish di KTH Sumber Rejeki. Pengelola menyebutkan bahwa pembangunan sumur bor, embung, dan penyediaan mesin pompa diperlukan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Namun, besarnya biaya pembangunan membuat kebutuhan tersebut sulit dipenuhi secara mandiri oleh petani sehingga produktivitas kebun belum dapat dioptimalkan.

Selain persoalan air, keterbatasan permodalan turut menghambat pengembangan usaha. Berdasarkan keterangan pengelola, biaya budidaya pisang diperkirakan mencapai Rp85 juta per hektare sejak persiapan lahan hingga panen. Sementara itu, hasil panen diperoleh secara bertahap sehingga diperlukan skema pendanaan yang sesuai dengan siklus produksi dan kebutuhan operasional petani agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Persoalannya bukan hanya bagaimana memasarkan hasil panen, tetapi juga bagaimana menjaga produksi agar tetap berjalan. Kami membutuhkan dukungan modal dan sarana pengairan supaya kebun dapat kembali produktif dan peluang pasar yang sudah tersedia bisa dimanfaatkan. Jika kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, kami berharap produksi meningkat dan usaha dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi anggota,” ujar Angling selaku ketua KTH Sumber Rejeki

Selain pisang Cavendish, KUPS Bambu dan KUPS Rimpang juga berpotensi menjadi sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat. Pengembangan ketiga KUPS perlu didukung melalui peningkatan kualitas produksi, pengolahan produk turunan, perluasan akses pasar, serta penguatan kelembagaan. Dengan tata kelola yang lebih baik, KTH Sumber Rejeki diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk dan pendapatan anggota secara berkelanjutan.

Pengembangan usaha perhutanan sosial di KTH Sumber Rejeki membutuhkan dukungan terpadu berupa infrastruktur air, akses permodalan, dan peningkatan kapasitas pengelolaan usaha. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, mitra usaha, dan lembaga pendamping juga diperlukan untuk mengoptimalkan potensi pisang Cavendish, bambu, dan rimpang agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Melalui penguatan produksi, kelembagaan, pembiayaan, dan pemasaran, KTH Sumber Rejeki diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi anggota serta memperkuat ketahanan usaha dalam menghadapi risiko iklim. Upaya ini sekaligus mendorong pengelolaan perhutanan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

Scroll to Top