Mengubah Potensi Hutan Menjadi Kekuatan Ekonomi Melalui Kolaborasi dan Inovasi KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial)

Hutan tidak hanya menjaga keseimbangan ekologis, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat. Melalui perhutanan sosial, masyarakat memperoleh akses legal untuk mengelola hutan dan mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Untuk menjawab tantangan kapasitas usaha, pembiayaan, dan akses pasar, PATTIRO menyelenggarakan Business Matching Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pada kamis 30 September 2026 sebagai ruang kolaborasi untuk memperkuat bisnis masyarakat, membuka peluang kemitraan, serta mendorong usaha yang mandiri dan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai perspektif dari lembaga pembiayaan, mitra pengembangan usaha, dan organisasi pemberdayaan masyarakat, di antaranya Eko Prasondita selaku Kepala Divisi Penyaluran Pinjaman BPDLH, Ana Rahmawati selaku Direktur Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa, serta Irena Hijoyo selaku Program Manager ANGIN Foundation. Melalui berbagai perspektif tersebut, Business Matching KUPS menunjukkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat sekitar hutan membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar KUPS mampu berkembang menjadi usaha komunitas yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

Memperkuat Akses Pembiayaan dan Kesiapan Bisnis KUPS

Eko Prasondita, Kepala Divisi Penyaluran Pinjaman BPDLH, menjelaskan peluang dukungan pembiayaan bagi usaha berbasis lingkungan melalui berbagai skema, termasuk hibah dan pinjaman untuk mendukung pengembangan usaha masyarakat. Dukungan ini menjadi peluang bagi KUPS untuk memperkuat usaha berbasis potensi lokal secara berkelanjutan. Pengembangan usaha perhutanan sosial tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga perlu menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kelestarian lingkungan sebagai sumber penghidupan, sehingga mampu mendorong terwujudnya ekonomi hijau berbasis masyarakat.

Ana Rahmawati, Direktur Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa, menjelaskan bahwa pemberdayaan ekonomi perlu menggunakan pendekatan yang lebih luas melalui konsep filantropi hijau.

“Fokus kami untuk keberdayaan ke depan adalah filantropi hijau, jadi tidak hanya ke aspek manusia, pendapatan ekonomi khususnya secara moneter, tapi juga ada impact ke lingkungannya,” ujar Ana.

Menurutnya, keberhasilan usaha masyarakat perlu dilihat dari manfaat ekonomi sekaligus kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan. Melalui pendekatan ekonomi hijau, KUPS dapat menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus penjaga keberlanjutan lingkungan.

“Teman-teman ini menurut saya adalah pejuang lingkungan yang berada di garda depan, karena tidak mudah ya untuk hidup di tengah hutan dan melakukan usaha,” ungkap Ana. 

Perempuan Menjadi Penggerak Utama Ekonomi dari Hutan

Perhutanan sosial membuka peluang bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara legal, namun perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas usaha, pendampingan bisnis, akses pasar, dan pembiayaan. KUPS Sari Naga menjadi contoh peran perempuan dalam mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti selai dan sirup, sebagai solusi menghadapi tantangan pemasaran buah segar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil panen. Melalui pengembangan usaha tersebut, perempuan tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.

Irena Hijoyo selaku Program Manager ANGIN Foundation, mengapresiasi keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam pengembangan KUPS. Menurutnya, pengalaman pendampingan usaha perhutanan sosial menunjukkan bahwa kelompok usaha masih sering didominasi  laki-laki.

“Kalau kita lihat, kalau perhutanan sosial ini biasanya saya ketemu bapak-bapak semua. Jadi ibu-ibunya mana, terus ini sekarang sudah muda. Ini keren banget, apalagi yang buah naga isinya ibu-ibu semua,” ujar Irena.

Menurut Irena, keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam KUPS menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat dapat berjalan lebih inklusif. Perempuan tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi mulai mengambil peran dalam kepemimpinan usaha dan pengambilan keputusan. Sementara itu, generasi muda memiliki peluang untuk memperkuat inovasi, teknologi digital, dan strategi pemasaran agar usaha KUPS semakin berkembang.

Business Matching KUPS memperlihatkan bahwa masyarakat sekitar hutan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi lokal. Melalui penguatan kapasitas usaha, perempuan dan generasi muda mulai mengambil peran lebih besar dalam membangun bisnis berbasis komunitas.

Perempuan tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi mulai tampil sebagai pemimpin usaha. Generasi muda tidak hanya menjadi penerus, tetapi menjadi penggerak inovasi dan transformasi digital. Sementara kelompok masyarakat mulai bergerak dari sekadar pengelola sumber daya alam menjadi pelaku ekonomi yang memiliki daya saing. Melalui kolaborasi antara masyarakat, PATTIRO dengan dukungan dari The Asia Foundation dan kolaborasi bersama lembaga pembiayaan, dan mitra usaha, KUPS diharapkan mampu tumbuh menjadi model ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Scroll to Top