Tatakelola Hutan dan Lahan yang Berkelanjutan Melalui Perbaikan Kebijakan dan Optimalisasi Instrumen Fiskal

Periode: 1 Oktober 2021 – 31 Oktober 2022

Mitra/Donor: Program SETAPAK – The Asia Foundation

Program ini merupakan bagian dari Program SETAPAK yang dikembangkan oleh The Asia Foundation. Melalui program ini PATTIRO berupaya mendorong terwujudnya pengelolaan hutan dan lahan berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi kelompok perempuan melalui instrumen fiskal. Tujuan ini dicapai melalui upaya mempromosikan kebijakan ramah lingkungan antra lain mendorong kebijakan perhutanan sosial yang responsif gender, meningkatnya instrumen fiskal perlindungan melalui diterapkannya konsep Transfer Anggaran berbasis Ekologi (TANE) di tingkat nasional, serta mendorong peningkatan kapasitas dan jaringan CSO dalam mendorong aksi perbaikan tata kelola hutan dan lahan. Melalui program ini, PATTIRO juga mendorong penguatan kader-kader perempuan dalam advokasi tata kelola hutan dan lahan.

Kegiatan yang dilakukan PATTIRO diantaranya mendorong diadopsinya konsep TANE dalam APBN melalui perluasan indikator Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Dana Insentif Daerah. Upaya ini dilakukan dengan penyusunan rekomendasi konsep TANE, diskusi serial dengan CSO, diskusi dengan stakeholder di tingkat kementerian, seperti Kementerian Keuangan dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan diskusi publik yang melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, media dan masyarakat umum.

PATTIRO juga mengembangkan Gender Assesment Tools (GAT) sebagai instrumen untuk mengidentifikasi isu kesenjangan gender dalam pengelolaan perhutanan sosial. Data dan informasi yang dihasilkan dalam GAT ini akan menjadi bahan untuk memperkuat rekomendasi kebijakan perhutanan sosial baik di daerah dan nasional.

Dalam melaksanakan program, pendekatan yang dilakukan PATTIRO adalah aksi kolaboratif, pengembangan kapasitas advokasi, dan penyediaan sumber daya dan pendampingan teknis. Bersama Mitra SETAPAK, PATTIRO juga menginisiasi adanya koalisi masyarakat sipil untuk pendanaan perlingkungan hidup yang aktif mendorong penerapan EFT di daerah melalui Transfer Anggaran Provinsi berbasis Ekologi (TAPE) dan Transfer Anggaran Kabupaten berbasis Ekologi (TAKE).

Penelitian Efektivitas Pelaksanaan Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca.

Periode: 1 April 2021 – 31 Oktober 2023

Mitra/Donor: Think Climate Indonesia – International Development Research Centre (IDRC) Kanada

Think Climate Indonesia (TCI) merupakan program yang didedikasikan untuk mendorong lembaga think tank dalam mengembangkan riset dan rekomendasi terkait isu perubahan iklim. Melalui program ini PATTIRO melakukan riset tentang “Efektivitas Pelaksanaan Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca”. Penelitian ini fokus pada komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% dari skenario business as usual (BAU) dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional yang memadai pada tahun 2030. Secara spesifik, penelitian ini akan menginvestigasi lebih lanjut tentang kebijakan dan implementasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) sebagai bagian dari perwujudan komitmen tersebut.

Penelitian ini dikembangkan dari latar belakang bahwa pelaksanaan RHL belum dilakukan secara optimal. Pada RPJMN 2015-2019 lalu telah ditetapkan target 5,5 juta hektar lahan kritis dapat ditanami. Namun hingga tahun ke-4, penurunan lahan kritis melalui pelaksanaan RHL di dalam Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Daerah Aliran Sungai (DAS) baru mencapai 788.083 hektar atau 14,3% dari target. Pemerintah daerah penerima Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH DR) juga masih belum mengoptimalkan anggarannya untuk menjalankan program yang berkontribusi pada pencapaian target RHL.

Penelitian ini akan melihat sejauhmana target RHL yang ditetapkan oleh RPJMN 2020-2024 seluas 420.000 hektar setiap tahunnya dapat dicapai dengan baik. Penelitian ini juga akan melihat sejauhmana koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah penerima dalam menjalankan program RHL; efektivitas pelaksanaan program RHL sebagai upaya mitigasi perubahan iklim di Indonesia; mengetahui sejauhmana RHL berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca; serta mengetahui dampak dan manfaat program RHL bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Dalam menjalankan program ini, PATTIRO berkolaborasi dengan mitra TCI lainnya yaitu Kemitraan, Yayasan Inobu, Kota Kita, dan World Resources Institute Indonesia.

Voice of Inclusiveness Climate Resilience Actions (VICRA)

Periode: 1 Oktober 2021 – 31 Mei 2024

Mitra/Donor: Kementerian Luar Negeri Belanda

Program ini bertujuan untuk mewujudkan terbukanya ruang publik (civic space) dalam aksi-aksi adaptasi perubahan iklim khususnya pada sektor pertanian. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah mengeluarkan Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim (KPBI) periode 2020-2045 yang memandatkan Kementerian/Lembaga menjalankan aksi-aksi adaptasi perubahan iklim. Program ini memastikan KPBI dapat diimplementasikan di tingkat daerah dengan melibatkan kelompok petani rentan, kelompok perempuan, pemuda, disabilitas, lanjut usia, dan kelompok marjinal lainnya.

Program ini ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu penelitian untuk mendukung advokasi berbasis bukti, peningkatan kapasitas kelompok dampingan, dan advokasi kepada pemerintah daerah. Melalui tiga pilar ini, diharapkan akan muncul forum-forum kelompok masyarakat yang lebih inklusif yang memiliki pengetahuan tentang isu-isu perubahan iklim serta memiliki kapasitas untuk mengadvokasikan kebijakan tentang adaptasi perubahan iklim di daerah. Melalui upaya ini diharapkan muncul kebijakan pemerintah daerah tentang adaptasi perubahan iklim yang lebih baik beserta dukungan anggarannya.

Dalam menjalankan program ini, PATTIRO berkolaborasi dengan para mitra CSO lokal masing-masing Ayo Indonesia di Manggarai Timur (Nusa Tenggara Timur), YPPS di Flores Timur (Nusa Tenggara Timur), Bengkel APPeK di Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur), Konsepsi di Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), Transform di Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat), Mitra Bentala di Lampung Timur (Lampung), LP2M di Pesisir Selatan (Sumatera Barat), dan PKBI Sumbar di Padang Pariaman (Sumatera Barat).